Студопедия
Случайная страница | ТОМ-1 | ТОМ-2 | ТОМ-3
АрхитектураБиологияГеографияДругоеИностранные языки
ИнформатикаИсторияКультураЛитератураМатематика
МедицинаМеханикаОбразованиеОхрана трудаПедагогика
ПолитикаПравоПрограммированиеПсихологияРелигия
СоциологияСпортСтроительствоФизикаФилософия
ФинансыХимияЭкологияЭкономикаЭлектроника

KYUHYUN’S POV

KYUHYUN’S POV | KYUHYUN’S POV | KYUHYUN’S POV | KYUHYUN’S POV | KYUHYUN’S POV | KYUHYUN’S POV | KYUHYUN’S POV | KYUHYUN’S POV | KYUHYUN’S POV | KYUHYUN’S POV |


Читайте также:
  1. KYUHYUN’S POV
  2. KYUHYUN’S POV
  3. KYUHYUN’S POV
  4. KYUHYUN’S POV
  5. KYUHYUN’S POV
  6. KYUHYUN’S POV

Aku mendongak saat mendengar pintu apartemenku dibanting keras oleh adikku. Aku melempar majalah yang sedang kubaca ke atas meja lalu mendelik ke arahnya.

“Kau kenapa?”

Dia menghempaskan tubuhnya ke atas sofa dengan wajah suntuk, tidak mengacuhkan pertanyaanku. Kelihatan sekali kalau dia sedang patah hati.

Aku ingat betapa dia dulu menyanjung-nyanjung gadis yang menjadi pacarnya 4 tahun terakhir ini. Gadis itu cantiklah, baiklah, dan berbagai hal lain yang membuatku sangat penasaran dengan gadis yang begitu dicintainya itu. Dia bersikap seakan-akan gadis itu baru turun dari kahyangan. Seorang biudadari yang menjelma menjadi rakyat jelata. Dan seperti kisah cinta tragis lainnya, dia sedang merana sekarang.

“Masih tersisa tempat untuk menerima kabar buruk tidak?” tanyaku.

Dia mengangkat wajahnya lalu menatapku heran.

“Kau memang tidak pernah menceritakan hal-hal yang baik padaku!” ujarnya sewot.

“Aku akan menikah.”

Kali ini dia menatapku kesal.

“Itu berita bagus, tolol! Kau akan menikah sedangkan aku ditinggal kawin oleh pacarku sendiri!”

“Oh, kasihan sekali kau!”

“Aku penasaran sekali dengan namja itu! Aku mendapatkannya dengan susah payah tapi namja itu dengan begitu mudah bisa menikah dengannya.”

“Memangnya kalau bertemu dengannya kau mau apa?”

“Berlutut di hadapannya agar dia menyerahkan lagi bidadari itu padaku.”

 

TBC

 

HYE-NA’S POV

Aku mengamati satu persatu berpuluh-puluh baju pengantin yang berderet di hadapanku. Siang ini aku sedang mencari baju pengantin yang akan aku pakai nanti, ditemani oleh… ehm, calon ibu mertuaku. Demi Tuhan, dia baik sekali! Aku bahkan boleh memanggilnya eomma.

“Kau mau gaun pengantin yang bagaimana, Hye-Na?”

“Bagaimana kalau eomma saja yang memilihkan?” usulku sambil menggandeng tangannya lalu menariknya ke bagian sudut toko, tempat berbagai gaun pengantin yang paling baru berjejer rapi.

Dia tersenyum senang lalu mulai sibuk memilihkan gaun yang cocok untukku. Aku menatapnya, membayangkan betapa senangnya jika aku punya eomma. Kyuhyun beruntung sekali….

Dan saat aku memikirkannya itulah dia tiba-tiba saja muncul di hadapanku. Dia berjalan ke arah kami, membuat pikiranku mulai melantur kesana kemari.

Dia tampan sekali siang ini. Kemeja putih itu membalut pas tubuhnya yang atletis dan kacamata hitam itu… sebenarnya dia bisa terlihat setampan apa?

“Sudah selesai belum?” tanyanya setelah berhadap-hadapan dengan kami.

“Kau ini! Dasar!” gerutu eommanya.

“Aku harus membawanya sekarang, eomma!” protesnya.

“Memangnya mau kemana?” tanyaku heran.

“Kau pikir apa pendapat wartawan jika tahu aku tiba-tiba menikah? Mereka bisa berpikir bahwa aku menghamilimu. Kita akan membuat konferensi pers sekarang.”

Wajahku memerah mendengar ucapannya barusan. Namja ini benar-benar tidak tahu basa-basi sepertinya.

“Kyuhyun~a, sopan sedikit kalau bicara!” tegur eommanya.

“Gaunnya belum dapat juga?” tanyanya tanpa mengacuhkan perkataan eommanya sedikitpun.

Aku menggeleng.

“Dasar yeoja!” gerutunya. Dan tiba-tiba saja dia sudah menarik sehelai gaun pengantin lalu menyodorkannya ke arahku.

“Suka tidak?”

“Terlalu mewah,” ujarku dengan wajah semerah kepiting rebus. Apa-apaan dia?

“Tapi kau kan tahu bahwa ini bagus! Kau pikir aku tidak bisa membaca isi kepalamu?!” sergahnya lalu memberikan gaun itu ke pelayan toko.

Bagaimana dia tahu bahwa aku naksir sekali dengan gaun itu? Masa dia benar-benar bisa membaca pikiran?

“Tidak perlu dicoba dulu? tanya pelayan toko ittu sambil menatap Kyuhyun kagum. Berani sekali dia!

“Aku tahu ukurannya. Bungkus saja!”

“Kau!” geramku.

“Hmmfh… kalian ini ada-ada saja!” gerutu eomma Kyuhyun sambil melangkah keluar toko meninggalkan kami berdua.

“Eomma pulang dulu, Hye-Na~ya! Semoga konferensin persnya sukses!” serunya.

***

Aku menatap kaca dengan muram, memasrahkan wajahku dipreteli oleh tukang salon. Huh, mau konferensi pers saja harus dandan segala! Menyebalkan!

Aku melirik pakaian yang sekarang aku kenakan. Gaun terusan selutut berwarna hijau lembut. Sebenarnya menurutku sia-sia saja dia berusaha mendandaniku seperti ini, toh wajahku memang sudah tidak memadai. Lagipula kalau dia malu dengan penampilanku mengapa tidak cari yeoja lain saja?

“Sudah selesai, agasshi!” Suara itu membuyarkan lamunanku dan seketika saja aku menatap bayangan seorang perempuan cantik yang terpantul di kaca. Gadis itu cantik sekali, dengan polesan make-up yang tidak terlalu kentara. Lalu aku tersadar bahwa yeoja itu aku! Aku!

Aku berbalik saat melihat pantulan wajah Kyuhyun di belakangku, merasa sennag karena dia sejenak tertegun melihat penampilanku. Tapi dia sama sekali tidak berkomentar apa-apa dan malah menarik tanganku ke sudut ruangan lalu menyuruhku duduk di atas sofa.

“Kapan kau ulang tahun?” tanyanya tiba-tiba

“M… mwo?”

“Kita harus jaga-jaga, jangan sampai mereka curiga.”

“15 Juli 1989.”

“Aku 3 Februari 1987. Makanan dan minuman favoritmu?”

“Aku pemakan segala, kalau kau mau tahu!” ujarku sewot.

Dia hanya mengangkat bahu tak peduli.

“Ya sudahlah, lebih baik nanti kau diam saja. Arasseo?”

***

“Bisa ceritakan bagaimana pertemuan kalian?”

Itu pertanyaan pertama.

“Aku menabraknya di kampus. Laptopnya hancur, padahal dia harus menyerahkan skripsi siang itu. Lalu dia marah-marah padaku. Merecokiku setiap hari. Mengikutiku kemana-mana. Tapi lama-lama aku jadi terbiasa dengan kehadirannya. Kebetulan juga bahwa ternyata kami sudah dijodohkan sejak kecil. Dia menolak mentah-mentah tentu saja, sedangkan aku baru sadar bahwa sejak saat itu rasanya sulit sekali membayangkan hidup tanpa dia. Karena hidup tanpa dia… sama sekali bukan hidup.”

Terdengar suitan dan tepukan dimana-mana. Heran, kenapa dia tidak main drama saja? Aku kan tahu sekali bahwa kehadiranku malah membuatnya merana.

“Lalu sejak kapan kau memutuskan untuk menikahinya?”

“Sejak aku menabraknya waktu itu. Mungkin kalian tidak percaya, tapi… hanya sekali lihat aku langsung tahu bahwa yeoja inilah yang akan menjadi ibu dari anak-anakku. Yeoja inilah yang akan menua bersamaku. Setiap hari aku diliputi kecemasan bahwa dia akan menemukan namja lain yang lebih baik dariku, namja yang akan ikut menangis jika dia bersedih dan akan berusaha membahagiakannya setiap hari, sedangkan dia tidak tahu bahwa tidak ada namja manapun yang bisa mencintainya sebaik aku. Aku harus cepat mengambil keputusan sebelum namja itu datang dan merusak segalanya. Karena itu aku melamarnya.”

“Jadi dia tidak hamil?”

“Tidak. Yang benar saja! Kami sudah berhubungan cukup lama. Kalian saja yang tidak tahu. Lagipula kami sudah cukup umur untuk menikah.”

“Lalu bagaimana dengan karirmu?”

“Aku ingin orang menyukai laguku. Bukan statusku.”

Aku menatapnya kagum. Dari mana dia mendapat semua kosakata itu? Ngomong-ngomong dia tampan juga kaalau pakai jas.

“Nah, Hye-Na~ya, kenapa kau setuju menikah dengan Kyuhyun? Apa karena dia terkenal?”

Aku terdiam sesaat. Mencari kata-kata yang tepat.

“Bukankah sudah jelas sekali? Wanita bodoh mana yang akan melewatkan seorang Cho Kyuhyun?”

***

Mobil Kyuhyun sedang melaju kencang di jalanan saat melodi kesukaanku mengalun dari tape mobilnya.

“Kau juga suka lagu ini? Aku mendengarnya setiap malam tapi sampai sekarang masih tidak tahu juga siapa penyanyi dan judul lagunya,” ceplosku.

Dia tertawa kecil sambil menatapku kasihan.

“Itu laguku, Hye-Na~ya. Masa kau tidak tahu?”

Aku memalingkan wajahku menahan malu. Sial, bodoh sekali aku!

“Judulnya Benda Hidup Tercantik Di Jagad Raya, Hye-Na~ya,” ujarnya geli.

“Kau yang membuatnya?” tanyaku berusaha terdengar tidak peduli.

“Siapa lagi?” Dia balik bertanya.

Dia maasih tertawa-tawa saat mobilnya berhenti di depan rumahku.

“Kau bisa diam tidak?” geramku kesal. Aku membuka pintu mobil lalu menghempaskannya sekuat tenaga setelah aku berada di luar.

Kyuhyun menurunkan kaca mobilnya, menatapku dengan tampang serius.

“Ngomong-ngomong Hye-Na~ya, aku lupa bilang. Kau cantik sekali malam ini.”

Dan jantungku langsung berhenti berdetak.”

***


Дата добавления: 2015-11-14; просмотров: 54 | Нарушение авторских прав


<== предыдущая страница | следующая страница ==>
KYUHYUN’S POV| KYUHYUN’S POV

mybiblioteka.su - 2015-2024 год. (0.01 сек.)